SALWA

“Bagaimana, Nduk?”

Ibu bertanya, aku tetap membisu dengan tatapan nanar. Seolah suara ini dicolong senja dan membawanya menjauh dari kesadaran. Entahlah, tidak mungkin kujawab pertanyaan Ibu saat ini. Menikah adalah sebuah ibadah. Akan tetapi, bagaimana jika dalam ibadah itu aku harus menyakiti perasaan wanita lain? Tak kukenal, pun tak pernah berbuat kesalahan padaku. Apa pantas itu disebut sebuah ibadah?

Ah, Ibu. Tunggulah barang sejenak. Biarkan gadismu ini bersatu dengan sujud dalam tahajud nanti. Mencari sebuah jawab dari Tuhanku.

***

Foto lelaki itu masih berada di meja. Namanya Junaedi. Telah menikah delapan tahun tetapi belum mempunyai momongan. Aku sedikit menanam haru. Bukan kepada dia, tetapi lebih kepada istrinya. Aku tahu benar bagaimana perasaan yang dirasakan wanita itu. Dalam kenyataan yang menyakitkan, masih harus membuka lebar kedua tangan untuk menerima wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Untuk apa? Hanya demi memberikan keturunan yang tidak bisa dia berikan.

Sungguh berat beban yang dipikulnya. Bahkan jikalau itu adalah diriku belum tentu akan mampu menghadapi cobaan yang sama.

Aku masih menekuk sujud dalam sajadah. Hatiku berdecap-decap memohon petunjuk terbaik kepada Sang Pemberi Ruh pada ragaku. Mampukah aku mengemban pernikahan itu nanti? Lalu, bagaimana harus kuhadapi istri Mas Jun, jika benar aku menerima pinangan itu?

Kemudian terbesit kenangan beberapa hari lalu. Saat kami berta’aruf. Mas Jun berkata dengan kelembutannya di sela hiruk pikuk keluarga yang saling bersilahturami, “aku sangat mencintai Erica. Sebenarnya hatiku ingin menolak dorongan keluarga untuk menikah lagi dengan wanita lain. Tak mungkin kusakiti istri yang telah setia mendampingi suka dukaku selama delapan tahun itu, Salwa. Hanya saja..” kalimatnya terhenti. Dia menelan ludah sebentar. Tampak kesedihan di ujung matanya yang tegas.

“Hanya saja, melihat ketulusannya mengijinkanku menikah untuk mendapatkan keturunan, sungguh aku teramat bersyukur akan keberadaan Erica di sisiku. Dia begitu pengertian. Pengorbanannya kepada keluarga besarku sangat mengagumkan.” Lanjutnya.

Mas Jun terus berceloteh indah tentang isi hatinya. Begitu menyentuh. Sangat besar penghormatannya kepada sang istri. Membuatku iri, merasa ingin pula dicintai seperti itu.

Kemudian dalam denting-denting detik yang berlalu hening di antara kami saat itu, cinta menyapa dalam hatiku. Jantungku mulai tak beraturan saat memandangnya. Menendang, lalu menendang lagi.

“Salwa, jika engkau berkenan memberi kebahagiaan kepada Erica, maukah engkau menikah denganku? Aku janji akan belajar untuk mencintaimu, agar pernikahan kita tidak menjadi sia-sia.” tanyanya tulus, yang mampu membawaku dalam kebimbangan besar, diantara jawaban mengiyakan atau menolak.

Dalam sela sujud, aku menangis. Gadis yang tidak tahu diri ini sudah berani mencintai suami wanita lain. Tuhanku yang Maha Mengetahui segalanya, katakan dalam tegur sapamu yang lembut itu, apa yang harus aku lakukan sekarang?

***

Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Mbak Rica. Dia sepuluh tahun lebih tua dariku. Guratan-guratan usia di wajah ayunya menggambarkan betapa dia memiliki kesabaran yang besar. Dia sangat ramah, senyumnyapun begitu indah, mampu menyejukan. Benar-benar istri yang anggun. Aku dibuatnya kagum, sekaligus iri dengan garis takdirnya, memiliki suami yang begitu mencintai dia.

“Kabarnya Dek Salwa belum memberi jawaban pada Mas Jun ya?”

Aku menganggukan kepala. Melihat itu, Mbak Rica tersenyum. Dan tentu saja berhasil membuatku semakin gugup serba salah menghadapi dirinya.

“Tujuanku bertemu di sini hanya ingin meminta pertolongan padamu. Mungkin memang berat, begitu juga bagiku. Akan tetapi, ada seseorang yang ingin kubahagiakan. Jadi sebisa mungkin aku belajar untuk ikhlas menerima keadaan sekarang.” Mbak Rica berucap lagi, sambil mengaduk-aduk kopi panas di cangkir hitamnya. Setelah berhenti berkata, direguklah sebentar isinya.

Cafe tempat kami bertemu tidak begitu ramai saat ini. Hanya ada beberapa pemuda yang sedang memadu kasih sambil bercanda-canda ringan. Seorang kasir sedang menatap nerawang, entah apa yang sedang dipikirkannya. Lalu beberapa pramusaji sibuk membersihkan mesin pembuat kopi dan beberapa cangkir yang telah tercuci bersih.

“Apa yang bisa aku bantu untuk Mbak Rica? Sungguh, sebenarnya aku tidak yakin dengan perasaanku saat ini. aku takut, Mbak.”

Mbak Rica meraih tanganku, digenggamnya rapat. Dari matanya terpancar binar tulus penuh harap, seraya berkata, “aku mohon, selamatkanlah pernikahan kami. Berikanlah kebahagiaan yang tidak pernah bisa kuberikan padanya. Mungkin sebagai wanita aku bukanlah yang baik dalam menghadapi ini, tetapi sebisa mungkin kulakukan yang terbaik buat kita bertiga. Aku janji, kita akan menghadapi apapun bersama kelak. Tolonglah Salwa, hati kecil kami kesepian tanpa kehadiran seorang anak.”

Permohonan Mbak Rica membuatku terenyuh. Mataku berkaca, hampir ingin jatuh menggelinding tetapi dengan cepat kuhapus di ujungnya. Ya, Tuhan, wanita ini sungguh mencintai Mas Jun. Mereka saling mengasihi. Aku benar-benar beruntung bisa ditakdirkan ikut hadir dalam pernikahan mereka.

“Terima kasih, Mbak sudah mengijinkan aku menikah dengan Mas Jun. Sungguh besar hatimu yang cantik itu. Kelak, saat anak pertama kami lahir, dia akan menjadi anakmu, Mbak. Asuh dan bimbinglah dia seperti anak sendiri. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersamamu, sama seperti engkau berbagi kebahagiaan bersamaku saat ini.”

Dia tersenyum bahagia, akupun juga bahagia. Senang jika kami bisa saling memahami satu sama lain sebelum menapak pernikahan nanti. Rasanya, saat ini aku ingin memeluknya sambil menumpahkan tangis hingga puas. Dan tentu saja itu tidak mungkin bukan?

***

Setelah tiga bulan menikah, aku akhirnya mengandung bayi petama kami. ini anak kami bertiga. Kukira kebahagian telah merasuk pada hati Mbak Rica juga, sama seperti Mas Jun dan aku. Tetapi ternyata aku salah besar.

Aku baru mengetahui, ternyata hati manusia itu mudah sekali rapuh dan melebur dalam kebencian. Sekuat apapun pertahanan seorang wanita memupuk sabar dalam dekapan cemburu, perasaan iri atau kemarahan, masih saja bisa terbakar hingga raib. Mungkin hatinya sudah mengeluarkan darah yang teramat kental. Mungkin juga karena pikirannya yang telah teracuni aduk-aduk muslihat setan. Sampai-sampai wanita yang kukenal begitu teguh seperti Mbak Rica mampu berbuat keji.

Janinku telah mati. Mbak Rica mendorongku hingga jatuh dari lantai atas. Aku menggelinding pada duapuluh anak tangga rumah kami. semuanya berputar, lalu menjadi gelap. Sebenarnya hatiku meradang kesakitan karena amarah, tapi juga mafhum dengan perasaannya yang tidak kuasa menahan kecemburuan. Tetapi saat ini pilihanku jatuh pada bisu. Hanya diam menatap dinding-dinding kamar ruang rawat inap rumah sakit. Sementara Mas Jun tertidur kelelahan sambil tetap menggenggam tanganku.

Malam yang kasip. Aku terus beristighfar dengan meraba-raba tasbih, memohon pertolongan padaNya agar dibukakan pintu maafku untuk Mbak Rica. Berharap rumah tangga kami kembali bernaung dalam cinta, dan sekali lagi kesempatan untuk memeluk komitmen pernikahan.

Keesokan harinya, dalam sedu sedan, Mbak Rica datang meminta maaf. Namun Mas Jun yang sudah terlanjur marah, tidak menghiraukan dia. Bahkan saat Mbak Rica bersujudpun, suami yang dulu begitu mencintainya itu hanya membisu tak menatap. Oh Tuhan, aku tidak memperhitungakan perasaan suamiku. Dia masih tidak bisa memaafkan istri pertamanya. Lalu setelah ini, aku bisa berbuat apa? Padahal doa-doa yang kusematkan semalam adalah harapan terbaik buat kami. Aku ingin kami bertiga kembali pada perasaan yang sama dengan dua bulan lalu. Dan ini apa?

“Mas, mengapa tak kau maafkan saja Mbak Rica? Dia hanya khilaf. Aku paham benar dengan perasaannya, Mas. Ini memang tidak mudah dilalui dengan posisi sebagai istri pertama.” kataku setelah Mbak Rica berpamit pulang.

“Tidak, Salwa. Biarkan saja dia. Aku pun juga tahu, saat ini dia bukanlah dirinya. Tetapi belum bisa kumaafkan perbuatannya kali ini.”

Mendengar jawaban Mas Jun, aku hanya bisa menghela nafas. Entahlah, mungkin sementara ini akan kubiarkan dulu perasaan kami mengalir. Aku yang masih berjuang untuk bisa memaafkan, Mas Jun yang bergulat dengan kemarahannya, lalu Mbak Rica dengan penyesalan dan sisa-sisa kecemburuan. Semoga saja masing-masing dari kami bisa belajar dari ini semua. Hanya itu harapan yang bisa kusematkan dalam setiap sholatku.

***

Hari ini hampir enam bulan telah berlalu. Rumah tangga dua istri ini mengering. Sudah tidak ada cinta pada hati Mas Jun untuk Mbak Rica. Dia masih menyimpan marah, terlebih hingga hari ini aku belum hamil lagi. Semua harapan untuk kembali normal, pupus sudah. Remuk tergerus ego.

Apalagi yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Walaupun aku berulang-ulang meminta pada Mas Jun agar memaafkan Mbak Rica, tetap saja tidak dihiraukan. Bahkan akan menjadi marah jika kuungkit perkara itu. Menyedihkan sekali.

Mbak Rica juga menjadi lebih diam. Mengurung dirinya lama-lama dalam kamar. Saat keluar yang terlihat hanya mata yang sembab. Tidak ada lagi senyum hangatnya yang menyejukan. Bisu. Seperti boneka malang yang berjalan. Sungguh mengharukan sekali.

Kutatap lamat-lamat pintu kamar Mbak Rica. Ingin sekali mengetuk dan berbicara dengannya hari ini. sejak kejadian itu, dia selalu menghindar dariku, mungkin karena rasa malu dan sesal, atau malah semakin marah dan benci karena kehadiranku semakin merunyamkan hubungannya dengan Mas Jun. Entahlah.

“Salwa, apa wanita itu masih saja mengurung dirinya di kamar?” Mas Jun tiba-tiba datang di sampingku. Aku sedikit terkejut.

“Iya, Mas. Hari ini sudah lebih dua hari, tidak biasanya seperti ini.”

“Biarkan saja. Nanti kalau lapar pasti akan keluar juga.” Mas Jun berlalu.

“Mas, jangan begitu. Apa tidak sebaiknya kita mengetuk dan mengajaknya berbicara? Kita sudah terlalu kejam padanya karena tidak memperdulikan kehadiran dia di sini.”

Mas Jun terhenti, sebentar saja, kemudian hampir beranjak pergi lagi. Kuraih lengannya perlahan, kemudian memeluk lengan kokoh itu. “Ayolah, Mas. Aku mohon. Mari kita selesaikan kebekuan pada pernikahan kita. Aku benci harus seperti ini terus.” kataku. Tanpa terasa, air mataku mengalir pelan.

“Ah, Salwa. Sungguh aku sebenarnya malu kepada kalian,” dia memelukku, “ini salahku karena tidak bisa membimbing dua pernikahan ini dengan adil, sehingga timbul perasaan cemburu pada Ericaku. Salwa, mungkin aku terlalu kaku dengan egoku yang tidak mau meaafkannya karena menghancurkan impianku. Ah, iya sayangku. Kau benar, sudah seharusnya kita hentikan semua ini.”

Kami berpelukan cukup lama. Kutahu suamiku saat ini sedang menahan tangis. Tidak apa-apa. Itu karena dia lelaki. Aku paham benar.

“Ma,” Mas Jun mengetuk pintu kamar. “Mama tolong bukakan pintu. Ayo kita berbicara bertiga.”

Hening, tidak ada jawaban dari dalamnya.

“Mama. Papa ingin meminta maaf karena membiarkanmu terbenam sendiri dalam kesedihan. Tolong bukakan pintunya, Ma.”

“Mbak Rica.”

Masih diam. Hanya terdengar suara detik jarum jam yang menggema di atas pintu kamar.

Kami berdua berpandangan. Terbesit kecemasan di kedua mata Mas Jun. Lalu tanpa berkata lagi, dia berlari ke arah dapur, mengambil kunci cadangan kamar Mbak Rica. Berlari kembali, lalu segera secepat kilat membuka pintu.

Brak! Dibanting keras daun pintu itu. Mata kami menyapu kamar. Kosong. Tidak ada Mbak Rica. Lalu melesat ke kamar mandi. Pintunya terkunci juga. Wajah Mas Jun sudah menekuk, cemas sekali. Dan dadaku berdebar kencang, jantung seperti hendak lepas dari rongganya. Tuhan, jangan ada apa-apa, aku mohon.

Kali ini pintu didobrak kasar. Dua kali dorongan kaki baru bisa terbuka. Dan, astaghfirullohal’adzhim, tampak tubuh kaku Mbak Rica terduduk dalam lantai kamar mandi, bersandar pada dinding, dengan kepala tertunduk. Dari pergelangan tangan yang menganga, tampak gumpalan darah yang mengering dan menggenang di lantai. Lalu kulihat secarik kertas bertuliskan “maafkan aku” tenggelam dalam darah.

Mas Jun jatuh terduduk di hadapan tubuh yang tak bernyawa di depan kami. Menangis keras-keras penuh penyesalan. Kepalan tangannya menghantam lantai berkali-kali. Kutahan lengan itu, lalu kupeluk suamiku yang rapuh karena ditinggal mati istri pertama yang begitu dicintainya. Aku menemani tangis pilu Mas Jun dalam menit-menit berikutnya, dalam seguk kesedihanku. Menangis berdua, menatap pada sebuah mayat, yang ruhnya pergi dengan membawa benci dan penyesalan.

***

“Erica, Erica! Sudah mau maghrib, sayang. Ayo masuk ke dalam rumah, nak.”

Gadis kecil yang kupanggil berlari menghampiri. Dia tersenyum-senyum ceria. Wajah ayunya bahagia sekali.

“Wah, ada apa? Mengapa Erica tersenyum? Ada yang menyenangkankah, sayang?” tanyaku.

“Bunda, aku tadi betemu dengan tante yang mirip sekali dengan Mama. Dia memelukku sambil menangis,” kukerutkan alisku, berusaha memahami ceritanya barusan, “kata tante, dia berterima kasih sama Bunda dan Papa. Karena sudah memberikan anak yang cantik padanya. Tante sekarang bahagia. Aku tidak mengerti, apa tante itu temannya Bunda?”

Aku terkejut. Mataku menyapu halaman rumah. Sebuah pohon akasia yang rindang tiba-tiba membuatku merinding. Seolah ada sesuatu tersembunyi di sana. Mbak Rica, engkau kah itu?

Jan 2, 2013
3:49

Advertisements

ERICA

Dan ini adalah sebuah kota kecil, di mana telah kutinggalkan lama, tanpa tahu itu berapa waktu sudah berjalan dalam denting detiknya. Aku tersesat, mengembara dengan kelinglungan bodoh yang berdegup tanpa henti dalam sekat-sekat hati. Kebencian, dendam lalu teramu pula amarah, bergulat diam, memecah rasa cinta. Membuat sesuatu terganjal, mengiringi rohku yang terlunta-lunta.

“Maafkan aku..”

Itu adalah kalimat terakhir yang tertinggal dalam jejak kepergianku. Entah, apa mereka yang kutinggalkan dalam perih masih mengingatku atau tidak. Sungguh tak pantas aku berharap bisa hadir dalam kenangan, karena kehadiranku hanya memberi rasa kecewa yang teramat dalam.

Lalu, hari ini, perjalanan gontai yang kulalui kini berhenti pada sebuah rumah besar berwarna lembayung tua, dengan pohon akasia yang menjulang rindang. Itulah rumah kami, aku dan Mas Jun, juga Salwa. Di sanalah waktu bergulir dengan kejam menarik ulur takdir kami bertiga.

***

“Ini Salwa, gadis duapuluh tiga tahun, bekerja di panti anak yatim piatu An Nisa. Dia sangat ramah dengan siapapun, ulet, bertutur kata lembut. Sungguh Ibu akan bahagia sekali jika kau memilih dia sebagai penerus garis keturunan kita.”

Aku ingat sekali hari itu, di mana pertama kalinya kami mengenal sosok Salwa, walau hanya dari sebuah foto. Wajahnya ayu, terbesit kesan kesederhanaan yang anggun dalam jilbab hijau muda yang dikenakannya. Sungguh tak salah jika Ibu Mertua begitu jatuh hati pada gadis itu.

Mas Jun dan aku telah menikah hampir delapan tahun dan belum dikaruniai seorang anak. Karena itulah, keluarga mendesaknya untuk memperistri Salwa, gadis cantik anak dari salah satu sahabat kerabat. Mau tidak mau, setuju tidak setuju, akhirnya Salwa pun menjadi bagian dari keluarga kecil kami.

Pernikahannya sederhana, tetapi lebih sakral daripada pernikahan megahku bertahun-tahun lalu. Salwa hanya mengenakan kebaya putih yang teramat biasa, kerudung putih yang lebih teramat biasa lagi, dan untaian bunga melati yang juga hampir sama, sangat biasa. Tetapi binar wajah dan aura kecantikannya memancar memukau semua yang hadir.

Dia mempesona. Dan aku iri. Kecemburuan yang bertahun-tahun tidak pernah hadir dalam bingkai hatiku, saat itu berhasil mengetuk pintu, lalu mencabik-cabik dengan kejamnya, hanya dalam hitungan menit. Kemudian perasaan itu semakin membesar, saat Ibu Mertua menginginkan Salwa ikut berada dalam satu atap bersama kami.
Aku hanya bisa pasrah tidak menolak. Mengikuti alur cerita yang mereka buat untukku. Tanpa menampakan kesedihan atau melempar banyak tanya, hanya tersenyum dan melihat, akan dibawa kemana dua pernikahan ini kelak. Terserah mereka saja!

Lalu apa? Dalam satu rumah, dua istri, satu suami. Begitu menyakitkan melihat mereka bermesra-mesra sebagai pengantin baru. Tetapi apa kuasaku? Toh aku jugalah yang mengijinkan pernikahan ini. Demi kami, demi Mas Jun yang sudah mendamba momongan. Aku hanya bisa pasrah, belajar menerima kenyataan di depan mata. Karena apa? Karena aku wanita mandul, sungguh tak pantas meminta lebih dari ini.

Hanya saja, keimanan yang kubanggakan ternyata belum bisa menangkal benci yang semakin meluap ketika mendengar Salwa akhirnya hamil. Ah tidak, bukan karena itu sebenarnya. Jujur, aku ikut senang dengan kehamilan Salwa. Hanya saja, wajah bahagia dan tangis haru yang tidak pernah aku dapatkan dari Mas Jun saat mengetahui kabar tersebut, membuatku iri. Menyakitkan sekali. Rasanya seperti sebuah paku besar menancap dalam-dalam pada perasaanku.

Menangis, meradang, semakin menumpuk dan bertumpuk kebencian. Aku lupa siapa diriku. Apa tujuan pernikahan kami. Pun juga tentang komitmen yang tertoreh di dalamnya. Yang terdengar hanya bisikan setan. Semakin Salwa dan Mas Jun bahagia semakin aku marah pada mereka.

Hingga suatu hari, di mana laknat sudah menguasai hati dan pikiranku, sebuah rencana muncul begitu saja.

Iya, hari itu, Salwa kudorong dari tangga beranak duapuluh. Dia bergulingan jatuh ke lantai dasar. Kepala dan perutnya terbentur hebat. Merintih sebentar kemudian pingsan. Darah menggenang. Kakinya yang putih pucat menjadi merah karena teraliri darah yang muncrat deras dari selah keduanya. Aku puas menatap dari atas. Menyunging senyum kemenangan. Tetapi nikmat dosa itu hanya sekejab.

Janin Salwa mati.

Mas Jun teramat marah padaku. Memang tidak ada teriakan maki dari mulutnya. Hanya tatapan tajam dengan mata yang memerah, seraya berkata, “apa kamu puas dan bahagia dengan begini, Ma?” Singkat. Tetapi berhasil membunuh detak jantungku seketika.

Semua menjadi gelap. Murung. Pernikahanku mengering. Mas Jun sudah tidak memperdulikan keberadaanku. Kesedihan, penyesal, dan entah apa lagi yang tengah berkecamuk di perasaanku, ternyata jauh lebih menyakitkan daripada kebencian itu sendiri. Lebih menyesakan. Sangat!

Berbulan-bulan aku menjadi sesuatu yang ada hanya karena sebuah ikatan, itu saja. Tidak lebih. Hingga akhirnya, aku sudah tidak mampu menahan siksa malu yang mencekik leherku, dan juga menggerogoti tulang-tulangku hingga linu, memutus pergi meninggalkan segalanya.

***

“Mama?”

Seorang gadis kecil berkepang dua dengan rambut mungilnya menyapa, membuyarkan kenangan pedih yang baru saja terbesit dalam ingatanku. Dia melihatku? Bagaimana bisa? Tunggu, mengapa gadis ini memanggilku mama?

“Mama pulang? Rindu sama aku ya?” tanyanya lagi.

“Maaf nak, tante bukan mamamu.”

“Oh.” Wajahnya yang cerah tadi kini menjadi muram. Anak siapa ini? Salwakah? Dia masih kecil, mungkin sekitar tiga atau empat tahun, entahlah.

“Iya, tentu saja tante bukan Mama, dia sudah meninggal saat melahirkanku.” Mata beningnya mulai berkaca-kaca.

Aku menunduk, memegang kedua bahunya perlahan, dengan lembut sekali. “Siapa namamu sayang?”

“Namaku Erica,” aku tersentak penuh kejut. Hei, itu namaku! “Bunda memberikan nama Mama padaku, katanya biar aku, Bunda, dan Papa, tetap mengingat keberadaan Mama yang pernah menjadi bagian dari keluarga kecil kami.” lanjutnya kembali sambil terisak-isak.

“Siapa Bundamu nak?”

“Bunda Salwa.”

Sungguh aku kemudian terduduk lemas. Air mata yang seharusnya telah mengering itu berhasil jatuh berkeroyokan. Tidak kusangkah ternyata Mas Jun dan Salwa memaafkanku. Penyesalan yang terbawa serta dalam ketersesatanku, kini luntur perlahan, lega rasanya. Mengalir bersama bulir-bulir bening air mata.

Kupeluk gadis kecil Erica. Dia anakku, anak yang dijanjikan Salwa akan diberikan dalam pelukanku, dulu sebelum dia menikah dengan Mas Jun.

“Terima kasih karena Mbak Rica sudah mengijinkan aku menikah dengan Mas Jun. Sungguh besar hati Mbak yang cantik itu. Kelak, saat anak pertama kami lahir, dia akan menjadi anakmu, Mbak. Asuh dan bimbinglah dia seperti anak sendiri. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersamamu, sama seperti engkau berbagi kebahagiaan bersamaku saat ini.” Begitu janji Salwa. Sungguh aku teramat bodoh karena mudah sekali mendengarkan bisikan setan. Mengikuti keegoan hati, tega melukai mereka yang begitu memikirkan kebahagiaanku.

Tuhan, maafkan aku. Mungkin benar aku sudah tidak pantas mencicipi surgaMu yang abadi keindahannya, karena berani mendahului takdir kematianku yang Engkau gariskan. Tetapi ijinkanlah, setidaknya sekali untuk saat ini, doaku untuk mereka yang masih memberiku cinta dan memilih menyimpan kenangan yang baik di hati gadis kecil Erica.

Terima kasih Tuhan, sudah mempertemukanku dengan Erica. Kini, pengelanaanku yang kekalpun, bisa kujalani dengan senyuman. Sungguh, Engkaulah yang Maha Pemaaf atas semua dosa hamba-hambaMu yang hina seperti aku.

Des 30, 2013
0:30

KEMUNING

Adalah dia, Kemuning, wanita berhati tangguh. Dalam usia yang hampir tigapuluh tiga, sudah mampu menaklukan musuh terkuatnya, aku, dirinya sendiri. Sempat tidak percaya bagaimana dia mampu menjegalku masuk ke dalam rongga hati yang terdalam, paling dasar dan paling gelap. Menguncinya rapat, tersenyum sebentar, lalu menghilang tanpa memandang ke belakang. Meninggalkan aku dalam perasaan kelam yang pernah kuciptakan sendiri, dahulu sekali, ketika aku masih mengagahi hatinya.

Sudah dua atau tiga bulan ini, dia membiarkanku kelaparan. Tidak sekalipun berbicara atau bahkan hanya sekedar menyapa hai. Padahal, sejak aku diciptakan oleh perasaan kalutnya, kami selalu bersama. Berjalan beriring-iring. Tak pernah dia meninggalkan aku dibelakang, melepas tangan, atau mengacuhkan perkataanku.

Lalu mengapa sekarang dia berkhianat?

Sudah lupakah siapa yang mengajarinya tentang hidup? Bahwa jangan pernah mempercayai seorang pun, hanya kita. Aku juga sering berkata padanya, jika hidup itu harus bisa membalas, jangan mau menjadi pihak yang lemah, begitu mudah diinjak dan disakiti. Tidak! Kita bukan wanita yang harus menjadi sandal bagi pria manapun.

Tetapi lihatlah kini? Dia diam padaku. Seolah aku ini sudah bukan bagian dari dirinya lagi. Benda asing. Sesuatu yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupannya. Baginya aku adalah hal buruk yang tak pantas bersemayam lagi di otak. Hei, padahal diriku ini nyata keberadaannya. Lupakah kau, Kemuning?

Ah, sebentar, kuhela nafas dahulu. Aku sudah terlalu lelah menunggunya datang menghampiri lalu menjulurkan tangannya kembali. Sama seperti dulu. Ingin menari bersama, dan meneriakan isi hati kami seru-seru dengan nada pedas.

Oh ya, aku teringat. Terakhir kali kami bersama adalah malam itu, saat kepedihan luka lama menyeruak berhamburan, keluar dari pori-pori. Denting sepi, bulan durjana lalu anak embun yang mulai menampakan wajahnya. Mereka bertigalah yang menemani deru tangis Kemuning, yang sudah lama begitu dia rindukan.

Tangisannya memilu, menyayat hati. Berteriak, menangis, tertawa terbahak, kemudian menangis lagi kencang-kencang. Bulan bahkan malu untuk melihat Kemuning, tidak berdaya dilahap dendam amarah yang meluap-luap. Dalam remang cahaya dia menelungkupkan kaki, memeluk dengan kedua tangannya, sesegukan di dapur sendirian. Iya sendirian. Sebenarnya aku tahu lelaki itu, suami Kemuning, bisa mendengar teriakan dan tangisannnya, tetapi apa? Dia berpura-pura tuli. Hanya diam merebahkan tubuh di kamar.

Makhluk yang menyedihkan. Lelaki paling egois yang pernah kutemui!

Lalu apa kau tahu ke mana Kemuning setelah itu? Membenamkan dirinya dalam kamar mandi, dengan deru air kran yang deras, berkali-kali menyiram kepalanya dengan gayung sebesar panci air. “Byur! Byur! Byur!” Seperti sedang mengusir roh jahat dalam tubuhnya, sebuah ritual, sambil terus terisak. Kau tahu pukul berapa saat itu? Duabelas malam. Aku pikir saat itu dia sudah gila. Tetapi ternyata dugaanku salah.

Setelah malam itu, sekali pun dia tak pernah tertawa lagi padaku. Muncul sebuah kekuatan baru yang entah datang dari mana. Dan itu menakutkan. Dengannya Kemuning berhasil melawanku. Menindih semakin ke dalam. Terpuruk. Lalu beginilah akhirnya. Dia bebas, dari cekikan dendam dan kebencian yang telah bertahun-tahun menggerogoti pikirannya. Itulah aku, dendam dan amarah Kemuning pada suaminya sendiri.

Ah, ini tidak boleh seperti ini. Tak bisa dia terus-terusan mengacuhkan aku. Sungguh, harus segera bertindak sebelum kekuatannya semakin membesar. Maka, dengan sisa tenaga yang tersimpan, aku berusaha memanggilnya sekali lagi. Untuk yang terakhir kalinya, mungkin, tapi bisa saja juga tidak yang terakhir, kita lihat saja nanti.

“Kemuning.” Hening menggema.

“Hai, bisakah kau mendengarkan. Sebentar saja, berbicaralah padaku.”

Diam, masih tak ada jawaban. “Kemuning. Kemuning!” kali ini lebih keras.

“Apa?” akhirnya dia menyahut walaupun dengan perasaaan malas.

“Apakah kau benar sudah menyerah pada perjuanganmu selama ini? Menuntut hakmu untuk bahagia dari lelaki itu?”

Kemuning membisu sebentar, sambil terus merajut baju hangat untuk bayi perempuannya. “Tidak. Aku bukan orang yang mudah putus asa, kau tahu benar itu.”

“Lalu, mengapa sekarang kau melepaskan dirimu dari aku? Bukankah aku ini kekuatanmu untuk melawan keegoisannya.”

“Bukan, kau salah.”

“Apa maksudmu aku salah?” Hatiku meradang. Tersinggung benar aku akan perkataan Kemuning barusan.

“Kekuatanku bukan kamu, tetapi anak-anakku. Kau hanya sisi gelap yang mengaku menjadi penolong. Kau merusakku.”

Hah? Apa! Huh, geregetan aku. Dia malah menyungging senyum, bukti kalau benar-benar membenciku. “Jadi kau akan diam saja dengan perlakuan lelaki itu? Dia itu pembohong, banyak menyimpan rahasia di belakangmu, dia bajingan, maen perempuan. Kamu tahu benar itu! Bagaimana kau hanya bisa diam saja melihatnya menari kegirangan, meloncat-loncat, dan menganggapmu bodoh karena begitu pemaaf, begitu mudah dibohongi. Padahal sebenarnya kau tahu semua kebohongannya. Kau tahu itu!”

Kemuning terdiam.

“Aku tidak bisa terima, Kemuning. Kau itu sedang dilecehkan. Apa gunanya dia menikahimu jika hanya mampu menyiramimu dengan kebohongan saja? Bukan itu guna kamu menjadi pendamping hidupnya.”

Dia menghela nafas panjang. Sekarang menatap mataku dalam-dalam sambil berkata panjang. “Kau tahu, tidak ada gunanya menyimpan dendam dan kebencian dalam hati. Justru akan membuat kita bobrok saja, hati akan semakin membusuk. Tidak pantas aku memberi tangisku pada lelaki yang semaunya itu, biarlah sudah, dia bukan menjadi prioritas lagi dalam hidupku. Kau tahu apa yang terpenting sekarang? Anak-anakku, ibadahku, kebahagiaanku. Kan kukejar itu sampai malaikat maut datang. Bukan lagi kesetiaannya, bukan lagi kejujurannya. Percuma. Kita tidak akan bisa merubah sesuatu jika sesuatu itu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berubah. Sama saja menyayat tangan kita dengan belati, menyakiti diri sendiri. Biarkan saja dia mau menumpuk dosa, itu hak dia menjalani hidupnya, mungkin memang hanya segitulah batas kemampuannya. Lebih baik rubah diri sendiri menjadi lebih baik lagi. Bukankah aku ini wanita yang tidak sempurna, belum mampu menjadi istri yang baik.”

Sekarang aku yang membisu.

“Aku lebih memilih berdoa pada Tuhan, agar hati lelaki itu dibuka, disentuh dengan tangan agungNya. Kau tahu kekuatan doa bukan?”

Benar, wanita ini semakin kuat. Dan aku menjadi lemah dihadapnya.

“Kau tidur saja di sana, renungkan perkataanku. Rubah dirimu menjadi hal yang baik jika kau masih mau bersamaku. Aku tidak mendendam, pun tidak marah dengan dirimu. Kau masih bagian dari jiwaku.”

Huh, apa katamu, merubah diriku. Dendam saja belum bisa terbalaskan, enak saja. Sudahlah, mungkin saat ini kau menang, dan aku akan kembali kaku di pojok gelap sana. Tetapi ingatlah Kemuning, bahwa aku masih ada, tersimpan di hatimu. Ya, walaupun aku terbenam semakin dalam, tetapi kelak, saat kau putus asa kembali, itulah saatnya kemenanganku akan berkibar.

Maka dengan bersungut-sungut aku kembali terdiam, malas berbicara kembali, sementara Kemuning melanjutkan rajutannya.

Des 19, 2013
9:19

JODOH UNTUK ABYL

“Pokoknya Abyl harus segera dinikahkan, Pa!” Mama ketus. Bahkan teramat ketus bagi Papaku yang berperangai pendiam.

“Halah Mama ini keburu amat sih.” Papa menjawab santai sambil mata tetap tertuju pada buku kerjanya. Otak Papa masih bercengkrama dengan angka-angka puluhan juta rupiah, sudah tdak ada ruang untuk memasukan keinginan sang istri di sana.

Mama cemberut. Bibirnya manyun hampir sepanjang tali sepatu Nike warna hitam bersemu ungu milikku. Cocok. Aku menyungging senyum melihat rajuk Mama.

“Abyl itu gadis matang, Pa. Sudah ranum, sudah waktunya dicarikan jodoh. Mama sudah rindu menimang cucu.”

“Iya deh, terserah Mama.”

Bagus! Mata Mama berbinar cerah. Berkelip-kelip bak lampu disko mini di rumah Helen, pacarku. Pasti dia sudah menyiapkan rencana besar buat jodoh Abyl si gadis manja itu. Hmm, ya ya, apa peduliku. Abyl memang kesayangan Mama sejak kehadirannya di rumah ini. Putus hubungan. Kalian benar mampu menarik kecemburuanku.

***

Pulang sekolah, kutemukan Mama asik di ruang tengah, sambil membolak balik lembaran foto. Apa lagi itu? Pasti tentang Abyl lagi.

“Apaan itu, Mam?” tanyaku sekenanya.

Ditanya begitu, Mama malah tersenyum bahagia. Sekali lagi, ba-ha-gi-a. Ah, tahu begini aku tidak bertanya padanya.

“Ini foto calon suami Abyl,” Mama nyengir lebar, menunjukan deretan gigi yang tidak lengkap di sisi kanan. Nah, benarkan dugaanku. “lihatlah, mereka ini bibit bobot bebetnya sudah teruji. Ganteng, berkelas dan gagah. Mereka keluarga kaya raya.”

Fyuuhh, iyalah. Anak kesayangan. “Lalu mana sekarang Abyl, Mam?”

“Tidur di kamarnya.”

Gadis pemalas benar kau Abyl. Di sini Mama sibuk pilih-pilih pasanganmu, eh kamunya malah keasikan molor. Apa kamu tidak punya pilihan sendiri? Inikan tentang masa depanmu, Byl. Eh, tapi, apa makhluk seperti dia itu juga punya rasa cinta ya? Bisanya makan tidur saja begitu, apa juga memikirkan masa depan ya? Entahlah, pusing amat mikirin Abyl.

***

Malam sudah menunjukan pukul delapan lebih, baru saja aku kembali dari menjemput Helen. Hari ini Mama akan mengadakan pertunangan Abyl dengan calonnya. Entah siapa namanya pun aku tidak paham benar. Belum pernah kami bertemu apalagi berkenalan.

“Roy, ajak Helen juga ya, kita adakan makan-makan sederhana buat pertunangan Abyl besok malam. Ingat, jangan lupa, sudah kusebar undangan ke tetangga kanan kiri sebagai saksi.” Kata Mama kemaren sore.

Sederhana apanya? Tetangga kanan kiri yang mana?

Bukankah itu tenda sebesar rumah berwarna biru dengan bunga hidup di sana sini? Lalu yang di situ, apakah aku tidak salah lihat? Deretan mobil dari berbagai sisi arah tetangga, ya utara, selatan, timur, bahkan barat pun ikut nampang rapi. Mama..Mama.. ya beginilah kalau seorang wanita kaya sedang terobsesi dengan derajatnya.

Aku menggeleng. Helen tertawa renyah.

***

Acara bubar. Hancur total. Dokter mengatakan kalau Abyl sedang hamil muda. Dua bulan usianya. Pantas saja, itulah alasannya mengapa akhir-akhir ini gadis manja itu lebih banyak bermalas-malasan.

Mama malu, menangis meraung. Sesenggukan dalam pelukan Papa. Katanya dia shock. Sudah tidak punya muka lagi di hadapan keluarga calon suami Abyl.

Sudah kesepakatan mereka, sebelum pertunangan dilanjutkan, Abyl harus diperiksa dokter keluarga dahulu. Begitulah adat kaum yang menjunjung tinggi nominasi bibit, bebet dan bobot. Harus bersertifikat jelas.

“Mama tidak rela, Pa. Mama tidak rela.” Katanya dalam tangis yang berhasil membuat gema di ruang keluarga kami.

Aku dan Helen saling memandang geli. Pun demikian dengan Papa, senyum-senyum sendiri.

“Sebenarnya Papa sudah tahu kalau Abyl itu sudah punya gandengan. Tiap malam dia dan kekasihnya itu memadu kasih di bawah pohon kamboja kita. Mama aja yang tidak tahu.”

“Mengapa dibiarkan sih, Pa? Kekasihnya itukan kucing kampung. Abyl keturunan asli kucing persia tercantik dari juara tahun lalu. Kok Papa tidak bilang sama Mama.”

“Ah, Mama ini, seperti tidak pernah muda saja.” sahut Papa. Kontan membuat aku dan Helen semakin tertawa lebar melihat cerita lucu di keluarga kecil dengan Mama yang sok-sokan punya kucing ningrat ini.

Lalu Abyl?

Tentu saja malam ini memadu kasih lagi dengan si kucing kampung di bawah pohon kamboja. Dia mah, mana peduli dengan embel-embel ningrat di jidatnya. Sekali cinta ya cinta. Tidak ada urusan dengan manusia yang sibuk mempertahankan gelar seperti majikannya. Ya ya ya, manusia itu lucu bukan? Terlalu memuja kayanya, keningratan, apa lagi gelar. Toh bukan itu yang dibawa mati nanti.

Ah, Mama ini, seperti tidak pernah belajar agama saja.

Des 15, 2013
7:15

GARA-GARA (di) KAMAR MANDI

“Pak! Pak’e!” Bu Slamet berteriak heboh. Kenapa? Belum ada yang tahu kenapa di pagi yang cerah sumringah itu tiba-tiba terdengar suara bak halilintar dari balik kamar mandi.

Karena tidak segera mendengar jawaban dari orang yang dipanggil, dia berseru semakin kencang, “Pak’ee!!”

Pak Slamet terperanjat, kopi panas yang hampir mampir di ujung bibirnya jadi terhenti seketika. Isinya terguncang pelan. Untung tidak jatuh ke celananya, bakal bertambah jingkrak kepanasanlah dia jika itu terjadi. “Halah, eneng opo toh, Bu’e? Kok pake teriak segala. Kayak kesamber jambret aja.”

Dengan gontai tergopoh Bu Slamet menghampiri suaminya, “Pak, gawat iki. Aduh, piye yo, Pak?” wajahnya pucat pasi. Seperti mayat!

“Apanya yang gawat, Bu?”

Alis Bu Slamet mengkerut menukik ke bawah, melirit seperti cacing garing yang sedang terpahat kaku di atas mata. Serta merta dengan tangan sedikit bergetar, menyodorkan sebatang benda panjang berwarna putih dan biru.

“Aku hamil, Pak.”

“Hah! Apa, Bu? Hamil?”

Pak slamet mendelik, pupilnya membesar, kakinya pun ikut lemas. Sungguh tersambar petir di pagi hari. Berita apa ini? Ah, bukan, ini bukan berita, ini malah sebuah musibah. “Duh Gusti Pengeran, iki opo maneh toh yo.”

Maka celakalah duabelas. Bukankah anak mereka sudah merocot lima, jagoan semua pula. Masih kanak-kanak. Si sulung baru kelas lima SD, nah si bungsu malah dua tahun saja belum genap.

Musibah, musibah. Sungguh datang hal tak diduga.

“Ini gara-gara Ibu. Ibu selalu menggoda Bapak, ingat umur lah, Bu. Kita sudah tua.”

“Loh, enak saja gara-gara aku. Ya Bapak itu, sedikit-sedikit main mata ke Ibu, pake dikerling-kerling genit. Kalau sudah begini, mala menyalahkan yang digoda, bagaimana sih.” jawab Bu Slamet gak mau kalah.

“Ya karena Ibu sliweran pake hotpants segala. Mana itu kaki sudah sebengkak buah nangka, masih aja dipamerin ke Bapak!”

“Lah salah siapa, ada buah nangka tua lewat masih dicomot pula. Huh!”
Dan begitulah, pagi itu masih diisi dengan adegan “salah siapa”. Salah siapa ya? tidak tahu. Yang pasti sekarang adalah si istri sedang hamil muda dan Pak Slamet bingung limabelas keliling, cemut-cemut. Mau diapakan jabang bayi ini.

Bagaimana tidak kelimpungan, anak-anak itu tukang pukul semua. Beranteeem terus kerjaannya. Kalo tidak begitu, paling jago bikin tetangga senewen sambil nenteng-nenteng entong sayur atau panci butut berpantat hitam arang. Belum lagi yang nomer dua, Suripan namanya, paling senang mencekik anak ayam Bu Sakir, tetangga belakang rumah. Jika ada anak ayam mati mendadak tanpa sebab apa pun, pasti hasil kerja si Suripan. Kalo sudah begitu pecahlah tangis si emak ayam, berpetok-petok tujuh hari tujuh malam melolongkan kesedihan. Bu Sakir sempat hampir gila mendengar rintihan emak ayam. Telinganya memecah, jadi sering berdengung. Jika sudah demikian pasti bakal ngomel ke bapak si Suripan. Celaka, celaka..

Duh Gusti Pengeran…kalo yang keenam ini laki-laki lagi bagaimana lah Pak Slamet menjalani hari dengan dicaci tetangga kanan kiri depan belakang. Nasiiib, nasib..

***

Malam pun tiba. Emosi mereka berdua yang sempat lari ke sudut-sudut rumah mencari kebenaran, akhirnya mulai reda. Ini masalah gawat, bukan saatnya saling menyalahkan. Ayo dirembug bareng, bagaimana jalan ke depan nanti.

“Pak, kok kita bisa kecolongan koyo ngene toh ya?”

“Aku ya lagi mikir ini, Bu. Tunggu, apa jangan-jangan yang waktu di kamar mandi itu?”

Bu Slamet berpikir sejenak, bibirnya komat kamit sambil tangan meraba-raba menghitung jadwal. “Wah, hebat kamu, Pak! Benar, waktu itu masa suburnya Ibu memang.”

Mendengar kebenaran yang terungkap, Pak Slamet sumringah. Bahagia sekali dia. Senyumnya tersungging manis, lesung pipi yang hampir pudar karena usia pun tampak berunjuk muka tak mau kalah dengan matanya yang berbinar.

Tapi semua sirna begitu saja, hanya sekejap. Kembali teringat masalah si jabang bayi. Calon tukang pukul berikutnya.

“Digugurkan saja piye, Pak?” tiba-tiba istrinya memberi jalan terang dari bisikan setan.

Belum mau Pak Slamet menjawab iya walaupun setuju dengan rencana itu. Digugurkan. Selesai masalah. Tidak akan ada lagi calon tukang pukul sejati yang akan lahir. Pun tidak akan muncul cacian yang bertumpuk menepuk-nepuk penat di kepalanya kelak. Sempurna.

“Bukankah Bapak kenal baik sama dokter-dokter di kampung kita ini? Minta tolong saja sama mereka, katakan kita sudah tidak mampu ngopeni anak kalo ditambah lagi satu ekor.” lanjut istrinya lagi.

Pikiran Pak Slamet mengambang mencari-cari alasan seketika itu juga. Sebuah alasan yang harus sempurna. Kira-kira apa ya?

***

“Maaf, Met. Aku ndak berani, itu melanggar sumpah sebagai dokter.” Dokter Ririn menolak. Satu kandidat gugur.

“Hmm, bagaimana ya, Met?” Dokter Gatot memberi jawaban tidak yakin. Kandidat kedua pun gugur.

Tinggal seorang lagi, Dokter Udin Brudin. Teman nyentrik yang tak terlalu dekat-dekat amat, tidak menyakinkan, tetapi arang sudah hampir mengabu, harus dituntaskan sekarang juga. Ini gambling. Iseng-iseng berhadiah. Semoga ada keajaiban yang mau menyentuh hati Dokter Udin Brudin kali ini.

Mendengar permohonan Pak Slamet yang jarang sekali dia dengar, Dokter Udin Bbrudin berdehem keras. Membuat keringat dingin menetes dari dahi Pak Slamet. Benar-benar berputus asa, tidak mungkin orang ini mengabulkan keinginannya untuk membantu mengugurkan calon bayinya.

“Hemm, bisa, bisa diatur itu, Met. Pokoknya kamu berani keluar uang. Tidak sedikit, Met. Tiga setengah juta. Gimana? Kalau kamu setuju, aku kenalkan pada dokter kandungan yang mau membantumu.”

Deg! Hatinya berdegup kencang. Menelan ludah. Jumlah yang cukup besar buat dia yang hanya bekerja sebagai tukang penjual pentol kojek keliling. Pusing lagilah ini kepala. Entah mau bagaimana selanjutnya.

“Gadein aja motornya Pak’e yo. Sebentar aja, dua tiga bulan nanti aku carikan pinjeman buat nebus.” Kata istrinya ketika selesai mendengar kisah tiga setengah juta.

Pak Slamet geleng-geleng. “Piye Ibu ini, itu motor kan buat Bapak keliling, lah kalo digadaikan, bapak mau pake apa?” Buntu lagi, tidak ada jalan. Mungkin inilah saatnya menyerah pada nasib yang terlanjur nyantol di buku hidupnya.

“Walah, ternyata kowe kuwi ndak punya uang toh, Met? Lah gitu mau mengugurkan kandungan istrimu.” Dokter Udin Brudin menyungging decak, “kalo kamu mau jalan paling aman ya itu, mahal memang. Tapi bersih. Resiko kematian istrimu pun gak ada. Tapi kalau kamu memang gak punya uang, ada jalan lain. Pake obat.” lanjutnya sambil memicingkan mata.

Alis Pak Slamet mengkerut penuh tanda tanya. Ingin segera mendengarkan kelanjutan kata-kata temannya, penasaran dengan obat itu. Memang ada?

“Ya ada lah, Met. Kamu itu lugu sekali,” dokter itu tertawa ngakak. “harganya tetap mahal, duaratus ribu perbutirnya, dan untuk kasus istrimu, kamu butuh enam butir…”

Bla, bla, kemudian bla lagi. Penjelasan itu berputar-putar di kepala, dan tetap saja, masih butuh uang, banyak!

***

Bu Slamet paham benar dengan kegelisahan suaminya. Di rumah, kerjaannya hanya manyun melamun. Sering uring-uringan malah. Banyak yang dianggap salah, sedikit saja hal yang dianggap benar. Aduh, sudah kepalang tanggung. Sejak kehamilan ini terdeteksi, dia sudah mulai minum jamu terlambat datang bulan. Bahkan sehari minum lima bungkus! Tapi mana? Tidak ada hasil.

Dulu orang tua berkata, nanas muda bisa menyebabkan keguguran. Dimakanlah nanas muda. Sekarung beras dia beli di pasar. Nihil. Lalu apa lagi? Perutnya dipijit-pijit sendiri, tiap malam. Jika rasa jengkelnya timbul, dipukul-pukul keras. Tidak berhasil juga. Yang ada malah meringis kesakitan karena pukulan.

Ada yang bilang mengangkat barang berat juga bisa. Nah, kebetulan juragan Ponari lagi memanen rambutan. Iseng-iseng ikut membantu tetangga, angkat keranjang berisi rambutan. Sudah sering ditolak, tetapi dasar Bu Slamet saja yang ingin berolahraga, siapa tahu anaknya bisa jatuh. Eh, ternyata masih kuat juga tuh janin bersarang di rahim.

Ah, entah apa lagi sekarang. Memang jalan satu-satunya ya pakai obat itu. Maka hari ini, berhutanglah dia ke istri juragan Ponari tadi. Katanya buat bayar tunggakan uang sekolah anak-anak. Sudah tiga bulan mereka berempat belum melunasi uang buku, uang kegiatan, dan ini dan itu. Alasannya banyak, bertumpah ruah keluar dari mulut manisnya sambil sesenggukan.

Ya, istri juragan percaya saja. Tetangga dekat, apalagi wanita hampir kepala empat yang sedang menangis itu, tidak pernah bikin masalah dengannya. Maka uang sejuta setengah akhirnya mendarat di tangan bulat Bu Slamet. Berhasil. Serta merta dia berlari, menyambar sepeda kebo milik Bang Junet pemilik warung kopi, lalu mengayuhnya ke sekolahan tempat mangkal suami berjualan pentol.

***

“Gimana, Bu? Sampeyan sudah siap lahir batin?”

Bu Slamet mengangguk pelan, jari-jari tangannya bekerja nakal mencabuti kuku-kuku tangan, bukti bahwa sebenarnya dia pun gugup nian. Sedangkan Pak Slamet merinding disko. Bulu-bulu kakinya pada berdiri. Sebenarnya hatinya miris harus melakukan hal ini. Teringat dia akan perkataan temannya itu, “Obat ini kamu masukkan, Met. Sekali masuk tiga butir. Selang seperempat menit tiga butir lagi, lakukan sampai tiga kali.”

Glek! Dia menelan ludah. Gugup. Tanpa disadari bahwa istrinya jauh lebih ketakutan dari dia. Hei, ini soal nyawa. Bagi istrinya, yang tengah dipertaruhkan ini adalah nyawa dia. Dan kaum lelaki yang tengah ketakutan dalam posisi seperti Pak Slamet tidak mau menyadari hal ini. Maunya anak itu gugur, selesai perkara, tuntas, dan mereka aman!

Ah, menyedihkan…bukan? manusia mulai tidak takut dosa di jaman gila ini. Bahkan anugrah Tuhan pun mereka tolak. Seolah merekalah Tuhan yang berlaku untuk kehidupan mereka sendiri. Ah, manusia, sudah melampaui batas dosa yang setan dulu lakukan pada Adam dan Hawa. Sudah makin pandai mendurhakai Sang Pencipta.

***

Des 15, 2013
18:18

LELAKI dan PEREMPUAN KEMBANG WISMA

BeFunky_Chromatic_1.jpg

Bak kucing betina, kugeliatkan tubuh molekku dihadapnya, menggoda jiwa kelelakian yang terbenam dalam bisu itu. Helai demi helai sang satin merah maroon kutanggalkan dari persinggahannya. Kutelanjangi hasrat kewanitaanku di balik sinar bulan yang menyembul sempurna, dari himpitan sela lubang kayu jati jendela kamar.

Nihil. Lelaki itu tak bergeming sedikitpun. Hanya menatapku seperti menatap seonggok patung arca di candi-candi kota Yogyakarta. Hatiku meradang sakit terhina. Apa kurangnya diriku? Lihatlah, aku cantik, montok. Aku kembang di wisma ini. Banyak yang menginginkan tubuhku. Tetapi kenapa dia?

“Tidakkah kau memiliki sedikit hasrat cinta padaku, mas?”

“Maaf, aku tidak mencintaimu Kayla.”

“Lalu mengapa setiap hari kau menghabiskan malam bersamaku? Padahal hatimu ada bersama istrimu.” Marah, kubalikan badanku membelakanginya.

Mas Andre menarik tanganku perlahan, penuh kasih. Kurebakan tubuhku dalam pelukannya. Hangat. Ya, walaupun aku masih menggenggam marah. “Entahlah mengapa kulakukan ini. Aku hanya ingin bersamamu, itu saja.” Diciumnya pipiku, mesra.

“Kau berhati batu.” Kumanyunkan bibirku sepanjang-panjangnya. Iya, biar dia tahu kalau dia itu sudah menikam harga diriku. Masak, aku dibayar tiap malam bersama dia hanya untuk menemaninya bercanda.

“Biarlah, biarlah batu ini menikmati kebekuannya bersama perempuan yang penuh gejolak sepertimu.”

“Kau tahu, mas? Akan kuberikan nikmat dunia dalam genggamanmu jika kau mau memberiku sedikit saja keranuman cinta di hatimu.”

Dia tertawa kecil, serta merta berbisik lembut di tengkukku, “Iya aku tahu itu,” dikecupnya perlahan, kemudian melanjut membuang kalimat yang selalu mampu meluruhkan kesebalanku atas perlakuannya, “sekarang, biarkan aku tertidur dalam pelukanmu Kayla, aku merindukan aroma tubuhmu.”

***

Pukul dua pagi dini hari. Anak embun mulai berani menampakan bulir bening di dedaunan. Pun begitu pula sang kabut yang perlahan turun menapak tanah.

Kutamati istriku, Raysa, dalam lelap ia bertapa malam. Guratan wajahnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Masih anggun dan cantik, bulu mata itu masih memanjang serta melentik. Ah, gadis pujaanku yang dulu penuh keceriaan itu berangsur-angsur menjadi kalem. Singa betinaku yang lincah dan garang itu sekarang menjadi singa keibuan yang pandai gemulai.

Aku kehilangan sesuatu darinya.

Entah, aku ini bodoh atau naif. Entah rakus karena ego, entah karena tidak mengakui perubahan. Iya, aku tahu manusia bisa saja berubah karena tempaan, tetapi aku tidak suka ada perubahan padanya.

Apa aku terlalu naif? Aku tidak menyukai dirinya yang mulai memutuskan untuk berjilbab panjang, menata sikap dan lompatan kata dari bibir mungilnya, juga caranya yang sempurna melayani suami hampir tanpa cela.

Aku merindukan lekukan keceriaannya, hasrat dan emosinya yang tak beraturan itu juga. Aku ingin ia tetap lincah mengaum ganas di rumah ini. Tidak hanya sekedar tersenyum dengan mata yang terbinar lembut, tidak seperti itu kekasihku dulu.

Ah, aku benar-benar kehilangan dirinya.

“Mas sudah pulang?”

Sedikit terkejut melihat istriku tiba-tiba membuka mata, “I, iya.” sahutku gagap.

“Makan dulu ya mas sebelum tidur. Aku sudah menyiapkan rempeyek udang kesukaan mas.” Buru-buru dia bangkit dan menggelung rambut ikalnya.

“Ah tidak, aku ingin cepat-cepat tidur dan memelukmu. Aku sudah rindu bunda.”

Istriku tersenyum, senyum yang sama, lembut dan anggun. Iya selalu saja begitu. Bukan lagi senyum nakal yang memabukan. Tidak lagi melompat di atas tubuhku dan menindihnya lamat-lamat. Ah, aku benar-benar merindu hasratnya.

***

Sudah lima hari Mas Andre tidak menengokku di wisma. Aku kangen. Kami hanya berchat ria menekuk rindu melalui ponsel Blackberry kami.

“Maaf Kayla, istri tercintaku menginginkan aku di rumah. Matanya yang memohon itu tak bisa kutolak. Nanti, jika kerinduannya sudah kuredam, aku akan berganti meredam kerinduanmu di sana.”

“Aku cemburu, mas. Apa ini pantas?”

“Pantas, tentu saja pantas untukmu Kayla. Karena kau telah menambatkan jangkar kapalmu di dermagaku.”

“Kalau begitu cepatlah datang.”

“Pasti Kayla, pasti.”

***

“Aku ingin menikahimu, Kayla.”

Aku terkesima, takjub menyertai gembira. “Ta, tapi kau bilang, kau tidak mencintaiku. Kenapa ingin menikahiku?” kata-kataku tersekat di tenggorokan, melemah, “lagi pula, aku ini apa? Aku perempuan lacur, sungguh tak pantas meneguk manis madu pernikahan, mas”

Aneh, bukannya heran, Mas Andre mala tertawa mendengar kata-kataku. Mengapa?

“Kayla, Kayla. Kamu lucu.”

Eh, mala dicubit pipiku. “Auwh”

“Tidak ada yang namanya perempuan seperti kamu itu tidak boleh menikah. Jangan membuatku menjadi semakin gemas dengan pemikiranmu.”

“Benarkah?” aku melompat ke dada bidang Mas Andre. “Benar aku boleh menikah denganmu mas?” Aku malu, mungkin saat ini pipi ini meranum merah muda.

Mas Andre memeluk, “Begitu dong, itu baru Kaylaku.”

“Nah, katakan, kenapa kau ingin menikahiku, mas?”

“Tanggung jawab. Rasa terima kasihku pada kesetiaanmu menemani malamku.”

Tanggung jawab? Rasa terima kasih?.. ah, masih saja tidak ada alasan cinta. Tak tahukah kau Mas, aku mencintaimu benar. Hanya kau lelaki yang begitu hormat pada perempuan seperti aku.

***

Pukul duabelas malam. Suara hening menemani kebisuan kami dalam menit-menit lalu. Raut wajah istriku tak bergeming, tak terkejut, pun tak ada rasa marah di sudut-sudutnya. Mengapa? Mengapa bisa seperti itu?

Bagaimana dia bisa menekan emosi sebesar ini? Ataukah jangan-jangan dia memang sudah tidak mencintai aku? Mana kecemburuannya yang berapi-api seperti beberapa tahun lalu? Yang bahkan lebih hebat dari letupan Krakatau. Mana kemampuan histerisnya yang melolong bak serigala siap bertarung? Ah, aku menjadi geram dibuatnya. Siapa wanita yang sekarang ada di depanku, benar istrikukah dia?

“Apa Mas benar mencintai perempuan itu?” Akhirnya keluar juga kalimat darinya.

“Iya, aku sangat mencintainya.” Jawabku sedikit ketus. Aku ingin kemarahannya mencuat, itu jauh lebih baik.

Tapi harapanku nol kosong, istriku tetap tegar. Seperti memiliki stok sabar dan ikhlas super besar di hatinya. “Apa aku boleh bertemu dengannya, Mas? Besok, bawalah perempuan terkasih itu ke rumah kita. Alhamdulillah, aku bersyukur bisa berbagi tugas melayani Mas Andre dengan perempuan lain. Setidaknya sedikit beban bisa terlepas di pundakku, Mas.”

Hah? Bibirku terperangah mendengarnya. Dia menyetujuinya? Istriku menyetujui keinginanku untuk menikah dengan Kayla si perempuan kembang wisma dan malah mengucap syukur?

Hati ini tergetar hebat. Aku merinding.

Subhanalloh, sungguh wanita ini berhati emas. Di saat wanita lain akan menangis meraung atau mencaci suaminya yang ingin menikah lagi, ia malah mengucap rasa syukur kepada Tuhannya. Dia masih tersenyum begitu lembut dan anggun seperti biasanya. Bahkan binar kejora di matanya tidak redup sama sekali. Kekuatan apa ini? Inikah hasil pendekatannya kepada Sang Pencipta? Inikah yang dinamakan kekuatan iman? Sebuah penerimaan?

Aku terhanyut dalam selangkangan ego diri selama ini. Aku terbutakan kulit luar keduniawian. Astaghfirulloh, apa yang sudah kulakukan pada wanita kekasihku ini. Aku bodoh, bodoh. Padahal aku begitu mencintainya, tetapi aku malah mencabik hatinya yang indah. Ya Alloh, maafkan kekhilafanku.

“Mas, Mas kenapa?” istriku Raysa menghampiriku yang tengah tertunduk lemas dengan kedua tangan menopang kepala. Berat. Penat-penat di kepala bercampur rasa bersalah menekan dalam. Raysa tahu suara hatiku, tahu kalau aku tengah menahan tangis pilu penyesalan. Dia memelukku.

“Tenanglah, Mas. Kita wudhu saja lalu sholat malam ya? Sudah lama Mas tidak menjadi imam dalam sujudku padaNya.”

Ah, Kayla. Kaylaku sayang, aku kalah telak dengan ketulusan istriku. Maaf.

***

Hari ini, Mamy wisma menggeleng tajam kepadaku. “Sori Ndre, Kayla sudah tidak ingin menemuimu lagi. Hanya surat ini yang dititipkan padaku.” Secarik kertas berwarna tosca disodorkan padaku.

“Benarkah dia meminta seperti itu, Mam?”

Mamy mengangguk. Sudah cukup, mungkin beginilah akhir petualangan ini. Aku pun beranjak pergi dengan menggenggam rapat lembaran hati dari Kayla.

“Mas Andre, maafkan Kaylamu. Aku tidak bisa menerima tawaran pernikahan darimu, tanpa cinta, semua hanya semu. Tidak nyata. Tidak juga akan tercium wanginya melati pernikahan kelak. Terima kasih sudah memberikan sedikit malam pada perempuan lacurmu ini. Terima kasih sudah menyiramkan kelembutan untuk cinta di hatiku. Akan ku simpan, Mas. Semuanya. Jadi, ijinkan aku mengucap, aku baik-baik saja berada di wisma ini tanpamu.”

Aku menangis. Lelaki dengan tumpukan ego yang hampir berkarat ini, menangis sesenggukan di dalam mobil hitamnya.

“Kayla, kau salah. Sebenarnya aku mencintaimu.”

Des 3, 2013
9:15

BAIT “SAYONARA”

Ray-of-hope

Kasihku Bahma, oh nafasku Bahma,
apa kau lihat?

Di sini malam semakin lamat mencekat, gelap itu sang gulita, dan rembulan yang mulai kehilangan kemerahannya terpancang anggun di hitamnya kelam, tanpa berteman bintang.
Aku sesenggukan, benci bersekongkol dengan kerakusan amarah, memakan lumat cintaku padamu.
Sudah kuputuskan, aku akan pergi, membawa sang permata Nathya, mencoba menantang nasip tanpamu, mencari makna kesejatian cinta.

Aku mencintaimu Bahmaku, kutahu kaupun juga mencintaiku.
Tetapi kau hanya bisa memandikan aku dengan kebohongan, itukah makna cinta yang kau bisikan lembut di peraduan jingga kita?
Aku tak mengerti Bahma…

Kau pernah membuatku mati, dan aku berjuang tertatih belajar bernafas kembali mencoba untuk hidup.
Kau pernah memberiku sakit, dan aku mereguk madu di pelosok-pelosok kenangan agar mampu memaafkan.
Pun pernah kau benamkan aku pada malam kasip, tetapi dalam seguk bisu kuraba kelam mencari pegangan.
Kucium sedapnya cinta dalam ingatan, memenangkan marah, menerobosi rindu meradang, aku bertahan dalam keberadaanmu.

Tetapi tidak, kali ini tidak.

Maka Bahmaku,
aku lega bisa melepaskanmu.
Melepaskan ketidakbahagiaanku selama ini.

Selamat tinggal nafasku.
Berbahagialah dengan kesenanganmu…

*tersudut gelap mengepak semua kekuatan terakhir, terbang dengan hanya sebuah sayap, pincang*

***

Enter.

Bait-bait puisi sayonara kokoh terpancang sudah di kolom outbox emailku. Sukses terkirim. Entah akan dibaca saat ini juga ataupun tidak, aku tidak memperdulikannya. Sudah puas bagiku mengatakan kebenaran hati. Sudah selayaknya.

Ah, bulan yang hampir menyabit itu begitu buruknya malam ini. Ia tampak sedang kesepian tanpa bintang di sana. Kurebahkan tubuh ringkih yang berusaha menjadi kuat ke peraduan. Besok saat pagi membuta, sebelum sang hening yang tengah pingsan di gelap malam ini terbangun, aku akan pergi.

***

“Kau ada di mana Garini? Aku sudah tiba di tempat perjanjian. Cepatlah Garini, aku mencemaskanmu.”

Pesan singkat Amar kubaca sekilas. Laju bus semakin memelan saat memasuki terminal. Tunggulah Amarku, aku akan segera datang.

Ah, Amarku sungguh lelaki baik. Bukan kekasih gelapku. Bukan juga sebuah kisah di masa laluku. Dia hanya lelaki yang mencintaiku tanpa syarat aku harus pula membalas kerinduan kepadanya.

Pernikahannya telah gagal, “Ini salahku, aku tidak pernah bisa mencintai istriku seperti aku mencintaimu.” Demikian ucapnya terpasrah begitu saja dalam lantunan penyesalan.

Aku iba. Kekagumanku terhadap kebesaran kasihnya pada wanita yang tak lebih dari seonggok luka ini membuatku menjadi iba. Iya, ini bukan cinta. Ini hanya keibaan belaka.

***

“Hanya ini yang bisa kuberikan padamu.”

“Tidak Amar, ini sudah cukup bagi kami. Sebuah kamar tidur, ruang sederhana dan kamar mandi ini sudah lebih dari apa yang kami butuhkan,” kulempar senyum, “terima kasih Amar.”

Amar mengangguk, “Aku ada di kamar ujung, jika kau membutuhkan sesuatu, temui aku di sana.”

Matahari merajai siang. Menyingkirkan beberapa mendung yang sedari tadi menutupnya benar. Aku dan Amar sebentar saling menatap lamat-lamat. Masing-masing menyelam tanpa nafas ke dalam batin. Kosong, tak kutemukan apapun. Hanya segumpal besar rasa terima kasih yang mendalam teruntuk Amar. Tetapi entah bagi dia, apa yang diketemukannya di dalam tatapan semenit itu.

“Aku lelah, aku ingin beristirahat.” Kugoyang hening di atara kami, diikuti anggukan Amar dan kemudian memohon diri beranjak dari kamar kos berdinding lembab menghijau ini.

Ah, gadis kecilku Nathya, lihatlah akhirnya kita hanya berdua saja. Maafkan bunda memisahkanmu dengan ayahanda. Tetapi dengarlah, ini janji bunda. Kau akan jauh lebih kubahagiakan dari sebelum ini. Gadis kecilku Nathya, bunda mencintai kehadiranmu sejak kau bernafas di kandungku. Karena itulah aku tak bisa terpisah denganmu.

Ah, gadis kecilku Nathya, kaulah kekuatan bunda.

***

Ponsel terus berdering, tak kuhiraukan. Ini sudah hari ketiga kepergianku dan Nathya, berlari mencari kesejatian kata bahagia. Berkali-kali email mengalir deras bak air bah musim penghujan. Hanya kubaca, tak kuhiraukan.

“Bunda ada di mana? Nathya ada di mana? Aku kangen. Pulanglah, maafkan ayah, maafkan. Garini, tidakkah kau rindu pada Bahmamu? Tidakkah kau ingat padaku?…”

Lalu bagaimana denganmu Bahma? Apa kau juga teringat aku dan Nathya saat kau bersenang-senang dengan yang kau sebut kawan itu? Saat kau menjelajah Jogja, menikmati senja Pantai Kuta, mengukir jejakmu di pasir Pulau Seribu, atau saat kau menari riang di Puncak, apakah saat itu kau teringat kami yang kau tipu mentah berkata “Ayah ada tugas luar kota.”

Tidakkah, Bahma? Tidakkah?

“…kucabik sepi di sini. Kudecap doa di tiap lafalku, memohon pada Tuhan agar membuka pintu maafmu untukku…”

Apa? Pintu maaf? Tidak Bahma, kunci pintu ini kaulah yang membuangnya, bukan aku. Aku bahkan tidak berhasil menemukan di mana itu berada. Apakah sudah terbenam salju Himalaya, atau sudah tersapu angin badai Sandy di Atlantik.

Entah Bahma.

“…pulanglah Garini. Sayapku pincang tanpamu, bukankah kau juga pincang tanpaku?”

Ah, kau keliru Bahma. Sekarang Nathyalah sayap baruku. Lihat, sebuah sayap mungil tumbuh di punggungku saat ini, dia telah mampu menggepak perlahan tadi pagi.

Ah, Bahma, hanya kaulah yang pincang. Bukankah sudah kukatakan, jika kau tak mampu menjaga hatiku, maka aku akan pergi. Inilah sumpahku Bahma, sumpah pada diriku sendiri.

***

Bulan, dua cangkir kopi susu, sepuntung rokok terhisap separuh.

“Setelah ini apa rencanamu Garini?”

“Tentu saja aku akan mencari pekerjaan. Persediaan uangku sudah hampir menipis.”

Amar membenamkan rokok dalam asbak, “Mengapa tidak kau serahkan saja hidupmu dan Nathya padaku? Sungguh aku tidak akan keberatan menjaga kalian.”

Kusebarkan senyum padanya, disusul dengan tawa yang melebar.”Tidak Amar, tidak. Bukankah aku ini masih istri seseorang.”

“Berarti benar, tidak mungkin ada kesempatan untukku.” Amar munyungging bibir kecut.

“Kau tahu apakah takdir dan apakah nasip itu Amar?” kuteguk kopi susu sebentar, lalu melanjutkan kalimatku. “Aku sering berkata pada Bahma, takdir adalah hal yang sudah digariskan Tuhan kepada kita, sedangkan nasip adalah sesuatu yang masih bisa kita rubah, dengan seijin Tuhan tentunya.”

“Lalu, ada apa tentang takdir dan nasip pada saat ini?”

“Bahma dan aku disatukan karena takdir dari tangan agung Tuhan. Sedangkan pelarianku ini adalah nasip yang ingin kuubah. Bahma tidak sadar, dia jugalah yang mengubah nasip kami hingga seperti ini. Pikirnya semua akan baik-baik saja selama ini adalah takdir Tuhan, padahal, jika kita tidak memeliharanya dengan baik, pernikahan juga akan bisa hancur.”

Kuhela nafas sepenggal. Bulan yang sejak tiga hari lalu dalam posisi setengah menyabit itu kini tampak lebih indah di mataku. “Kita tidak akan tahu bagaimana hari esok dalam takdir Tuhan. Bisa saja aku akan tetap sendiri, bisa saja nanti ada lelaki lain yang bisa mengambil hatiku. Bisa saja itu kau Amar.”

Mata Amar terpijar bak kejora malam. Jika dia seekor anjing puppy, mungkin saat ini ekornya tengah tergoyang-goyang riang.

Ah, Amarku sayang. Amar sahabat masa kecilku. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di masa depan nanti, itu rahasia Sang Gaib. Yang kita bisa sekarang adalah berjuang, memperbaiki semua kekeliruan kita di masa lalu.

Bulan, dua cangkir kopi susu dingin yang hampir terkuras habis, lalu puntung rokok mati dalam asbak.

Des 1, 2013
07:00

I LOVE WRITING, WHY?

i-love-writing

Saya suka menulis. Anda juga, biasakanlah untuk suka menulis. “Loh, kenapa?” ..ya karena saya suka. “Lalu kenapa ajak saya juga untuk menyukai menulis?”

Nah, di sini menariknya.

Percaya atau tidak, menulis itu memiliki kekuatan penyembuhan loh. Yap, efek yang dihasilkan dari aktifitas menulis itu mampu membuat seseorang menjadi lebih tenang. Lebih bisa melepaskan apa yang (mungkin) selama ini terpendam rapat. Sesuatu yang ditekan sedalam-dalamnya yang ditolak kuat-kuat agar tidak mengingatnya kembali.

Para terapis kebanyakan mengajak klien dan pasiennya untuk menuliskan riwayat kehidupan mereka. Mengapa? Karena keterbukaan diri itu memulihkan.

Setiap dari kita pasti memiliki masa lalu yang bisa dibilang tidak ingin diingat lagi. Dipendam, ditolak, dan ditekan dalam ingatan. Kisah buruk dianggap aib yang tidak pantas untuk diungkap. Memang benar, tetapi justru dengan menyimpan emosi akan merampas energi positif kita, sewaktu-waktu kita akan marah, menangis, dan kecewa tanpa sebab. Hal ini akan membuat pasangan dan anak kita akan merasa aneh serta tidak nyaman lagi berada di dekat kita.

Para ahli menemukan, bahwa keterbukaan diri justru memulihkan. Menceritakan masa lalu yang buruk akan membantu kita membersihkan sisa emosi negatif yang mengendap dalam diri. Tetapi ingat, menceritakan aib tidak pada sembarang orang. Karena itu cobalah untuk menulisnya. Entah di kertas atau ketik di laptop kita. Tidak perlu dipublikasikan jika kita tidak mau, tak mengapa. Anggap ini adalah rahasia pribadi untuk memperbaiki diri, anggap ini sebuah diary.

Lucuti dan tanggalkan pakaian kita saat menulis pengalaman pribadi. Telanjangi semua tentang siapa kita. Keburukan, kepedihan, kemarahan yang meletup-letup, atau tangisan hening yang terpahat di hati yang selama ini tidak ada seorang pun bisa melihatnya. Karena dengan menulis itu semua, rasanya seperti membersihkan borok dan nanah-nanah emosi yang terselip. Seperti mandi segar di pagi hari. Keluar-keluar badan jadi segar ^^..

Mungkin pertama-tama saat memulai, kita akan menguras banyak emosi. Bisa-bisa menulis sambil mewek dan bercucuran air mata ^^!. Tetapi jika hal ini rutin dilakukan nantinya juga akan jadi hal yang biasa. Saat itulah kita akan merasa lepas. Lebih plong.

Tetapi setelahnya jangan berhenti menulis! Ingat itu. Kata Asma Nadia, penulis favorit saya, “jadikanlah menulis itu salah satu kewajiban bagi kita, seperti sholat lima waktu” Sehingga saat kita tidak menulis apapun dalam sehari, ada perasaan “apa ya yang kurang di hari ini?”

Menulis kudu tetap dilakukan. Ini juga masih termasuk terapi lanjutan, jangan berhenti pada satu atau dua kisah buruk masa lalu. Untuk berikutnya bisa tentang kenangan yang mengembirakan. Atau tulis apa saja. Tentang keseharian kita juga bisa, mulai dengan yang simple. Pasti bisa lancar. Lalu siapa tahu suatu saat nanti kita bisa menjadi penulis cerpen terkenal ^^ aamiin…

Maka begitulah, tidak ada alasan untuk tidak menyukai menulis bukan. Ini kegiatan positif, bukan mainan. Pasti ada manfaat bagi yang menulis dan juga yang membaca.

Nov 23,2013
0:38

KAU ADA DI INGATANKU

db_Oksana_Sulimova-_Love_in_Rain1

“Meong.”

Belang Hitam mendesah pelan dalam bahasanya sendiri. Tidak ada yang tahu kegelisahannya. Tidak si gadis kecil Mira. Tidak juga Mama Mira yang saat itu tengah asik mengelus sayang bulu-bulunya.

Hujan. Terdengar denting-denting air terjatuh ke atap rumah Mama Mira. Cepat dan menderu deras. “Tak, tak, tak, tak.”

“Mama, aku mau cucu hangat.” Mira memangil Mamanya. Merengek minta dibuatkan susu. Belang Hitam mengangkat kepala, melirik Mama Mira sebentar. Kemudian direbahkan lagi kepala kecil itu di atas kaki depannya.

“Meong.” menghela nafas sekali lagi.

Jika benar bahasa kucing seperti dia bisa dimengerti manusia seperti Mama Mira, mungkin artinya adalah, “Kamu di mana sayangku?” tetapi tentu saja tidak, perasaan merindu yang hampir mencekat sesak hatinya itu tetap tak ada yang mengerti.

Bahwa Belang Hitam sedang merindukan kekasihnya di tengah rintik hujan malam ini.

***

Sudah beberapa hari ini hujan selalu menyapa makhluk bumi, bersekongkol dengan sang awan memenjarakan sang matahari di singgasananya. Matahari tidak menolak, dia ingin beristirahat sebentar. Dia lelah bertugas tiap pagi hingga sore untuk mencerahkan hari-hari manusia yang terkadang tidak mau berterima kasih padanya, tetapi malah lebih banyak mengeluh.

“Ya ampun, panas sekali sih.”

“Hei, matahari. Tidak bisakah kau meredup sedikit?”

Atau, “Kulitku gosong nih, gara-gara matahari itu.”

Ya sudahlah, aku istirahat saja dulu di sini, biar kau hujan dan awan yang berganti tugas memuaskan hati manusia yang tak pernah puas itu, kata matahari sambil tersenyum.

Kembali kepada Belang Hitam yang duduk di teras rumah Mama Mira sambil menjilati bulu-bulu perutnya. Tiba-tiba matanya tergoda suara kaki-kaki kecil berlari menerjang hujan. Belang Hitam menengok ke arah suara, dilihatnya seekor kucing betina. Kucing itu basah kuyup, tetapi kecantikannya tidak ikut luntur disiram air hujan. Sekejab Belang Hitam langsung jatuh cinta padanya.

Kucing betina itu ikut berteduh di teras. Tersenyum pada Belang Hitam, tanda meminta ijin untuk diperbolehkan berada di situ sebentar. “Boleh ya?” tanyanya. Belang Hitam tidak menjawab, tetap takjub dengan kemolekan si betina berbulu tiga warna itu. Cantik, ucap batinnya.

Dilirik lagi. Tetap terlihat cantik. Sungguh tidak bosan dia melihat betina itu. Siapa namanya ya? Ingin bertanya tapi malu.

“Majikanku menamaiku Belang Telon,” tiba-tiba si cantik itu bersuara. Tahu saja dia apa yang dipikirkan Belang Hitam. “lalu majikanmu memberimu nama apa?” tanyanya kembali sambil melangkah mendekat.

Belang Hitam termangu, gugup dibuatnya, “Be, Belang Hitam.” sahutnya pelan. Sementara itu, wajah Belang Telon sudah hampir satu centimeter tepat di depan hidungnya. Dia mengendus. Mereka saling mengendus. Belang Telon mengusap wajahnya ke wajah Belang Hitam, manja. Jantung kucing jantan itu semakin berdegup kencang. Hampir lepas dari raganya.

Tunggu. Belang Hitam mundur selangkah. Betina itu sedang hamil! Iya hamil. Sudah membesar. Kenapa dia tidak menyadari hal itu sedari tadi? Dia hanya terpesona dengan wajah cantiknya saja. Ah, patah hati sudah, dia milik pejantan lain.

“Oh, ini. Beberapa hari lagi anak-anakku akan lahir. Mungkin akan tanpa ayah. Apa kamu pernah melihat pejantan berwarna kuning berbadan kekar yang mungkin sering berjalan di daerah sini? Aku mencarinya. Anaknya akan lahir, tetapi dia sudah menghilang beberapa hari lalu.”

Belang Hitam menggeleng lemas. Di hatinya muncul sedikit kagum bercampur kecewa, melihat betina itu begitu mencintai pejantannya sampai-sampai ketika hujan pun dia masih bisa mencari.

“Oh, begitu ya. Baiklah, hujan sudah mereda. Aku akan berjalan lagi.”

Belang Hitam sedih, sedih karena patah hati dan begitu cepat perpisahan dengannya.

“Tenang saja, aku masih akan kemari lagi jika hujan turun seperti hari ini. Aku tahu kamu pasti menginginkan begitu juga bukan?”

“I, iya. Datanglah lagi. Aku akan membantumu mencari dia.”

Maka begitulah perjumpaan kali pertama dengan Belang Telon yang merenggut hatinya. Yang membuatnya merindu kala hujan tiap kali turun.

Setelah hari itu, dua tiga kali ketika hujan pagi turun, dia kembali berkunjung menepati janjinya. Bercerita tentang dunianya yang begitu dimanja sang majikan. Soal impiannya membangun keluarga di rumah itu. Juga tentang kekasihnya si pejantan kuning yang gagah dan penyayang. Ya walaupun saat itu hati Belang Hitam seperti dicabik-cabik, tetapi juga terasa seperti cabikan-cabikan itu begitu indahnya dirasakan. Karena ada dia. Iya, begitulah kata manusia, cinta dan kesakitan itu berada pada garis lurus. Saling mengiringi.

Namun, menginjak hujan pagi keempat, kemudian datang lagi yang kelima, Belang Telon tidak pernah muncul. Ini membuatnya resah. Kemana gerangan betina cantik itu? Apakah sudah melahirkan anak-anak yang lucu sehingga tidak bisa lagi bertemu. Atau, jangan-jangan pejantannya sudah kembali dari sebuah perjalanan lalu mereka bersama lagi membentuk keluarga yang diimpi-impikannya?

Tidak pernah tahu alasannya.

Dan hingga hujan-hujan di hari berikutnya pun pertanyaan itu tidak terjawab. Dia hanya bisa berandai. Seandainya dia tahu di mana rumah majikan Belang Telon, seandainya dia punya keberanian mengungkapkan perasaannya, seandainya saja ini, seandainya saja itu. Ah..

“Meong.” mendesah lagilah yang hanya bisa dilakukan. Kini, hujan, penyesalan dan rindu, beraduk menemani kegelisahannya akan kenangan betina itu di ingatannya. Benar-benar merindu.

***

“Belang, Belang.” suara Mama Mira mengejutkan tidur siangnya. Kucing itu menguap sebentar lalu. “Oh, kamu di sini.” Mama Mira menyambar pelan tubuh Belang Hitam dari atas kursi lipat Oma.

Loh, ada apa ini, tumben sekal Mama Mira bersemangat di siang hari yang panas ini? Tannya hatinya.

“Lihat nih, Mama punya teman baru buat kamu. Lucu ya dia? Namanya Puy Puy. Dia gadis yang cantik bukan?”

Kucing betina kecil. Berumur sekitar empat bulan lebih. Wajahnya cantik, iya, diakuinya itu. Sangat cantik. Seperti wajah yang pernah dia kagumi dan cintai beberapa bulan lalu. Bulunya juga sama, terbelang tiga warna. Jangan-jangan.. jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Hal yang sama di hari itu. Iya, ini anak betina yang dia rindukan selama ini. Bau aroma tubuhnya yang khas pun sama. Itu pasti dia. Iya, itu pasti anaknya.

Belang Hitam terharu. Bulatan matanya berkaca-kaca. Kerinduannya mungkin saja terobati. Tidak apa-apa, iya tidak apa-apa, dia bahagia. Betina cantik itu pasti bahagia. Lihat saja, anaknya selincah dan sesehat ini.

Maka akupun juga bahagia mendengar kabar bisu tentang hati yang tidak pernah bisa dia dapatkan itu.

“Meong.” Puy Puy si kucing kecil bermain lincah dengan ekornya, matanya sigap, sesekali meraih wajah Belang Hitam seolah-olah ingin mengajaknya bermain bersama.

“Ini saja sudah cukup,” kata batin Belang Hitam. “pemberian ini saja sudah cukup.” Kemudian dia ikut bermain bersama gadis kecil itu. Lincah.

Nov 24, 2013
12:23